Thursday, April 29, 2010

Kisah Seekor Kelinci yang suka beramal


KISAH SEEKOR KELINCI YANG SUKA BERAMAL

Dahulu kala Sang Bodhisattva dilahirkan kembali sebagai seekor kelinci. Tempat tinggalnya di dalam rimba raya yang penuh dengan pohon-pohon yang rindang dan daun-daunnya yang berwarna hijau sepanjang masa. Rumahnya di dalam lubang kecil di tepi sungai. Karena tabiatnya yang halus dan peramah, maka semua penghuni hutan itu menjadi sahabatnya. Oleh karenanya ia merasa sangat bahagia. Tambahan lagi ia mempunyai tiga sahabat yang sangat akrab, yaitu seekor anjing air, seekor serigala dan seekor kera. Mereka merupakan empat serangkai yang tidak terpisahkan dan selalu bersama-sama. Seperti kata pepatah “Ringan sama dijinjing berat sama dipikul”.

Tidak ada satupun di antara kawan-kawannya yang mengira, bahwa kelinci itu bukanlah kelinci yang biasa. Mengapa demikian? Ya, karena kelinci itu demikian sederhananya, dan tingkah lakunya pun tidak berbeda dengan binatang-binatang yang lain.

Tetapi kita tau, bahwa kelinci itu adalah penjelmaan dari Buddha yang akan datang. Sebab itu ia memiliki sifat-sifat yang luhur. Dan keluhuran budinya itu ditunjukkannya dengan sederhana sekali. Tetapi yang terpenting baginya ialah menjalankan kebajikan beramal. Pada tiap-tiap kesempatan ia selalu menganjurkan supaya kawan-kawannya berbuat amal.

Karena sangat rajin selalu menganjurkan berbuat amal, maka kelinci itu sangat menarik perhatian binatang-binatang lain. Hal ini sampai pula terdengar di khayangan, tempat tinggal para dewa, terutama dewa Cakra , yang memerintah semua dewa-dewa sangat tertarik kepada kelinci itu. Timbullah pertanyaan pada diri Sang Cakra , apakah kelinci itu yakin benar akan apa yang dianjur-anjurkannya tentang kebajikan beramal. Maka tidaklah tertahan lagi keinginannya untuk mengetahui hal itu, lalu dicarinya akal untuk mencoba keyakinan sang kelinci. Dengan maksud itu ia turun dari khayangan dan menjelma menjadi seorang pendeta yang sudah tua usianya. Badannya dibuatnya berkerut dan sengsara seperti orang yang banyak menderita, miskin dan lapar. Demikian pendeta itu sampai di hutan tempat tinggal kelinci. Tidak jauh dari rumah kelinci, ia merebahkan diri dan merintih-rintih minta tolong.

Seperti telah diterangkan di atas, kelinci itu selalu bersama dengan kawan-kawannya. Demikian juga sekarang. Ketika mereka mendengar suara orang merintih minta tolong, berlari-larilah keempat binatang itu menuju tempat datangnya suara. Dan apakah yang mereka lihat? Seorang pendeta yang sudah tua, badannya kurus kering dan kepayahan.

Ibalah hati keempat binatang itu melihat kesengsaraan orang tua, apalagi seorang pendeta yang suci. Bertambah terharu mereka melihat sang pendeta hamper meninggal karena sangat lapar dan dahaga. ‘Tunggulah,’ kata mereka, “ Kami akan mencarikam makanan dan minuman. ‘ Ya, memang demikianlah, mereka harus mencari dahulu jika hendak makan dan minum. Anak-anak tentu mengerti juga, bahwa binatang-binatang hutan itu tidak mempunyai apa-apa dirumahnya. Mereka harus mencari makanan di mana-mana. Dan di mana saja terdapat makanan, disitulah mereka makan sampai kenyang.

Demikianlah, maka tidak lama kemudian si anjing air kembali dengan membawa tujuh ekor ikan. Ikan-ikan diberikannya semua kepada sang pendeta. Kemudian datanglah serigala membawa seekor kadal dan sedikit susu asam. Si kera datang pula dengan membawa beberapa buah mangga yang lezat-lezat. Dan akhirnya datanglah kelinci…….

Anak-anak tentu mengira kelinci itu membawa makanan yang enak-enak pula, bukan? Sebab tidakkah dia yang selalu menganjur-anjurkan supaya orang menjalankan amal! Tetapi, apa yang terjadi? Kelinci tidak membawa apa-apa. Satu butir makanan pun tidak ada padanya. Memang hari itu hari sial baginya. Dengan tangan hampa ia berdiri di hadapan orang tua itu. Ia sangat malu, lebih-lebih terhadap kawan-kawannya.

Dalam hati ia berkata,” Ah, Benar-benar binatang tidak berguna aku ini! Aku yang seringkali berbicara tentang kebajikan beramal, tetapi kenyataannya aku tidak mampu memberikan apa-apa kepada orang suci ini. Orang tua yang sangat memerlukan pertolongan dengan segera! Satu-satunya yang dapat kuamalkan kepadanya hanyalah badanku sendiri. Dan ini harus kulakukan!”

Karena pendeta itu sebenarnya adalah dewa Cakra, maka ia dapat mengetahui pikiran orang lain. Oleh karena itu mengertilah ia akan maksud kelinci itu. Tetapi sebagai pendeta ia dilarang membunuh makhluk. Sekarang yang perlu diketahui ialah, apakah kelinci itu benar-benar menyerahkan badannya sebagai makanan? Dikumpulkannya beberapa batang kayu dan dibakarnya. Kemudian dengan diam ia memandang kepada kelinci. Dengan tidak berpikir panjang lagi kelinci itu meloncat ke dalam api yang menyala-nyala. Dan matilah ia dengan ikhlas dan bahagia, dengan keyakinan, bahwa perkataan-perkataannya tentang amal telah dibuktikannya dengan perbuatan.

Dan untuk memperingati perbuatan kelinci yang penuh dengan keikhlasan dalam menjalankan amalnya, maka dewa Cakra menganugerahi kepadanya keputusan untuk menghias menara istana-istana para dewa. Dan anak-anak pun bisa melihatnya di bulan purnama.



Dari Buku : Kumpulan Cerita Buddha
Penerbit Dian Dharma
__________________
Read rest of entry

Kambing Yang Menyelamatkan Pendeta (Kebodohan)


Kambing Yang Menyelamatkan Pendeta (Kebodohan)


Dahulu kala, hiduplah seorang pendeta yang sangat
terkenal. Ia memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk mengadakan persembahan ritual dengan menyembelih kambing. Dalam kebodohan, ia berpikir bahwa ia adalah persembahan yang diinginkan oleh dewanya. Maka ia mencari kambing yang pantas untuk dipersembahkan. Ia meminta pembantunya untuk membawa kambing tersebut ke sungai suci dan memandikannya serta kemudian menghiasainya dengan kalungan bunga. Kemudian para pembantu itu sendiri diminta untuk membersihkan diri sebagai bagian dari latihan penyucian. Di tepi sungai, kambing itu tiba-tiba menyadaru bahwa hari itu pasti akan terbunuh, ia juga menyadari tentang kelahiran-kelahiran dan kematian-kematiannya yang lampau dan juga kelahiran-kelahiran kembalinya yang lampau. Ia menyadari bahwa akibat dan perbuatan yang tidak benar di masa yang lampau akan segera selesai.

Jadi ia mengeluarkan bunyi tawa yang nyaring,
seperti suara simbal. Ditengah tawa tersebut, ia menyadari suatu kebenaran yang lain - bahwa pendeta itu, dengan melakukan persembahan korban, ia akan mengalami penderitaan yang sama mengerikannya, akibat dari kebodohannya. Jadi ia mulai menangis sekeras tawanya! Para pembantu yang saat itu sedang mandi di sungai suci pertama-tama mendengar tawa kemudian tangis. Mereka heran. Maka mereka bertanya kepada kambing itu, "Mengapa kamu tertawa dn kemudian menangis dengan sama kerasnya? Apakah alasannya?" Ia menjawab, "Aku akan memberitahukan alasannya. Tetapi harus di depan tuan kalian, sang pendeta".

Karena mereka sangat penasaran, mereka dengan segera
membawa kambing persembahan itu kehadapan mereka. Mereka menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu sendiri menjadi sangat ingin tahu. Ia dengan hormat bertanya kepada kambing tersebut, "Tuan, mengapa anda tertawa begitu keras, dan menangis sama kerasnya?" Kambing itu, mengingat kehidupannya yang lalu, berkata "Dahulu kala, aku dulu adalah seorang pendeta juga, seperti anda yang terdidik dengan baik mengenai ucapan keagamaan. Saat itu aku juga mengira bahwa menpersembahkan seekor kambing bagi dewa juga diperlukan dan bermanfaat bagi orang lain, dan juga diriku sendiri di kelahiran yang akan datang. Akan tetapi sesungguhnya dari tindakanku itu adalah di dalam 499 kehidupanku berikutnya aku harus dipancung!"

"Ketika dipersiapkan untuk dipersembahkan, aku menyadari bahwa hari ini aku pasti akan kehilangan kepalaku untuk yang ke 500 kalinya. Dan akhirnya aku akan terbebas dari semua akibat perbuatanku yang tidak benar dalam kehidupan masa laluku. Sukacita akan hal inilah yang membuatku tertawa tidak terkontrol". "Kemudian tiba-tiba aku menyadari bahwa kamu, pendeta, akan berbuat kesalahan yang sama denganku, dan akan terkutuk dengan akibat yang sama, terpancung kepalaku dalam 500 kali kehidupan yang akan datang! Jadi, karena kasihan dan simpati, tawaku berubah menjadi tangis".

Pendeta itu berkata, "Jangan takut, kambingku yang
baik. Aku akan menyediakan perlindungan yan terbaik bagimu dan secara pribadi menjamin bahwa tidak akan ada celaka yang terjadi padamu". Tetapi kambing itu berkata. "Oh, pendeta, perlindungan anda sangat lemah dibandingkan dengan kekuatan karma/perbuatanku di masa lampau". Jadi pendeta itu membatalkan persembahan yang akan dilakukannya, dan mulai mempunyai keraguan mengenai pembunuhan binatang yang tidak berdaya. Ia membebaskan kambing itu dan bersama para pembantunya mulai memgikuti kambing itu untuk memberikan perlindungan.

Kambing itu berjalan pergi, hingga tiba pada tempat yang berbatu karang. Ia melihat beberapa pucuk daun muda di suatu cabang dan menjulurkan lehernya untuk mencapai dedaunan tersebut. Tiba-tiba saja ada kilat. Satu sambaran kilat menyambar batu yang tajam, membelahnya dan runtuhan bebatuan yang tama itu tepat memenggal leher kambing itu! Seketika itu juga kambing itu mati, dan kilat itu menghilang. Mendengar kejadian yang sangat aneh itu, beratus-ratus orang datang menuju ke tempat itu. Tidak ada yang dapat mengerti mengapa semua itu dapat terjadi.

Disekitar itu hiduplah seorang peri pohon. Ia telah
melihat semua yang terjadi. Ia menampakkan diri, dengan lembut melayang di udara. Ia mulai mengajarkan kepada orang-orang yang ingin tahu itu dengan berkata, "Lihatlah apa yang terjadi pada kambing yang malang ini. Inilah akibat dari membunuh hewan! Semua makhluk dilahirkan, dan menderita pada waktu sakit, usia tua, dan kematian. Tetapi semuannya ingin hidup, bukan mati. Dengan tidak menyadari bahwa semua mempunyai persamaan seperti itu, beberapa diantaranya membunuh makhluk hidup lainnya. Ini menyebabkan penderitaan bagi si pembunuh, baik pada kehidupan sekarang maupun kehidupan-kehidupan yang akan datang.

"Dengan tidak mengetahui bahwa semua perbuatan akan membawa akibat bagi si pelaku, beberapa dari mereka terus saja membunuh dan menyebabkan lebih banyak lagi penderitaan pada diri mereka sendiri di masa datang. Setiap kali mereka membunuh sebagia dari mereka juga harus mati dalam kehidupan sat ini. Dan penderitaan yang ada berlanjut bahkan sampai dilahirkan di alam neraka!" Mereka yang mendengarkan peri itu berbicara merasa sangat beruntung. Mereka berhenti membunuh karena kebodohan/ketidaktahuan mereka dan hidup dengan lebih baik, baik dalam kehidupan saat ini maupun dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.

Sumber : BBCID Online
Read rest of entry